Jika dan Akankah

Teruntuk kamu,
Saat ini
Di mana tepatnya kakimu menapak
Aku tak tahu
Di mana letak pohon yang meneduhimu
Aku tak tahu
Ke mana arah angin berhembus menyegarkan harimu
Aku tak tahu
Di mana saat ini arah pandangmu tertumbuk
Aku pun tak tahu

Ah, sungguh aku tak pernah tahu-menahu
Meski hanya satu hal tentangmu

Tapi, satu pasti yang akan selalu aku tahu
Jika kau adalah satu dari sibiran hidupku
Sosok semu yang selalu rela hati mendengarkan kesahku
Pada tiap pagimu, siangmu, petangmu, bahkan malammu

Tapi, itu dulu
Sebelum waktu mulai cemburu terhadapku
Sebelum khilaf merenggut yakinmu atas janjiku
Sebelum jemu tegur menyelimuti kau dan aku

Jika, satu saat nanti
Pada suatu petang yang mengakrabi diri sebagai senja
Dengan segala keindahan jingga pada tepian cakrawala
Adakah satu sempat yang sudi berbesar hati?
Sekedar memberi jeda pada waktumu
Untuk meneguk secangkir kaku kopi pada beranda kenang dan rindu bersamaku
Jika waktu berkenan membagi ruang lebih banyak
Mungkinkah kita bisa bertukar pandang?
Mengisahkan detik-detik ketika kita saling tiada
Mengisahkan luapan asa yang kini menjadi nyata
Atau,
Bisakah kita saling mengurai segala kusut di antara kita?
Agar kelak, tiada lagi beku yang meraja pada jengkal jarak yang semakin congkak





Komentar

Posting Komentar

Yang Sering Dikunjungi

[Resensi Film] - DILAN 1990 (2018), Panglima Tempur yang Tak Jadi Tempur

[Resensi Film] - Analisis Film A Beautiful Mind

[Resensi Film] - Sweet 20 (2017), Nostalgia Tembang Lawas

[Giveaway] - The Girl on Paper, bersama Penerbit Spring

[Resensi Film] - Kucumbu Tubuh Indahku (2019), Sebuah Potret Lengger Lanang