Adlerian in July

Setelah satu bulan penuh tidak menghasilkan apa-apa yang berarti untuk sekedar dipublish di laman pribadi ini, akhirnya hibernasi yang sifatnya sementara itu berakhir pada July-- di hari keempat ini.
Adlerian, apa yang kalian ketahui tentang Adlerian ini? 
Adlerian adalah sebutan untuk mereka-mereka yang menganut atau mengikuti teori Adler dalam mendalami ilmu psikologi. Adler? Siapa Adler? Kenapa harus Adler? Atau, seberapa hebat Adler? Ya, tentu saja pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan bermunculan ketika kita mendengar namanya pertama kali.

Adler, atau bernama lengkap Alfred Adler, adalah seorang tokoh psikologi yang mempunyai andil penting dalam perkembangan ilmu psikologi itu sendiri sehingga dapat masih kita rasakan manfaatnya hingga saat ini. Teori-teori yang dia hasilkan kemudian dikenal sebagai Psikologi Individual. Adler yang pada mulanya adalah merupakan anggota dari sekelompok kecil psikolog yang sering mendiskusikan hal-hal yang bersangkutan dengan isu psikologi di masanya. Tetapi, pada satu saat ketika dia mempunyai selisih paham dengan Freud, maka hubungan keduanya pun menjadi renggang. Adler semasa hidupnya dengan susah payah mencoba untuk menghilangkan perspektif umum yang menganggap bahwa dia (Adler) adalah pengikut dari Freud. Adler secara tegas menolak anggapan bahwa dia adalah salah satu dari Freudian (pengikut Freud), dia mengemukakan bahwa sudah jelas antara dia dan Freud mempunyai paham atau teori yang sangat berlawanan antara satu dengan yang lainnya.

Yang menjadi perhatian utama saya dari Adler ini adalah tentang teori-teori yang dia cetuskan. Dengan gamblang dan jelas Adler berpendapat bahwa, "Kekuatan dinamis di balik perilaku manusia adalah berjuang untuk meraih keberhasilan atau superioritas (striving for success or superiority)". Adler menganggap setiap individu dilahirkan dengan tubuh yang lemah dan inferior-- suatu kondisi yang mengarah pada perasaan inferior sehingga mengakibatkan ketergantungan pada orang lain. Tentu saja selain teori itu masih banyak teori yang dikenalkan oleh Adler, tetapi yang menurut saya paling menarik adalah teori yang telah saya sebutkan tadi (selain teori yang menerangkan bahwa "Nilai dari setiap aktivitas manusia harus dilihat dari sudut pandang minat sosial (social interest)"). Dan, pada untuk saat ini saya akan sedikit mengulas teori ini, serta akan saya korelasikan dengan fenomena-fenomena yang kerap terjadi dalam kehidupan kita.

Psikologi individual mengajarkan bahwa setiap orang memulai hidup dengan kelemahan fisik yang memunculkan perasaan inferior--perasaan yang memotivasi seseorang untuk berjuang demi meraih superioritas atau keberhasilan. Individu yang tidak sehat secara psikologis akan cenderung berjuang untuk superioritas pribadi, sedangkan individu yang sehat secara psikologis mencari keberhasilan untuk semua umat manusia.
Pada teori ini terdapat 4 aspek yang mempengaruhi untuk terbentuknya teori tersebut di atas, yakni:

Tujuan Akhir

Menurut Adler (1956), manusia berjuang demi sebuah tujuan akhir, entah itu superioritas pribadi atau keberhasilan untuk semua umat manusia. Pada masing-masing kasus, tujuan akhir tersebut bersifat fiksional dan tidak ada bentuk objektif. Tujuan fiksional yang diciptakan oleh tiap manusia disediakan oleh faktor keturunan dan lingkungan. Namun, tujuan tersebut tidak ditentunkan secara genetis atau lingkungan. Akan tetapi, lebih sebagai produk dari daya kreatif (creative power).
Contoh: Bayi mempunyai kekuatan bawaan (innate) untuk menuju pertubuhan, penyelesaian, atau keberhasilan. Oleh karena bayi itu kecil, tidak lengkap, dan leah, maka mereka merasa inferior dan tidak berdaya. Untuk mengimbangi kelemahan ini, mereka menetapkan tujuan fiksional untuk menjadi besar, lengkap, dan kuat. 
Jadi, tujuan akhir seseorang adalah mengurangi rasa sakit akibat perasaan inferior dan mengarahkan orang tersebut baik kepada superioritas atau keberhasilan. Adler (1964) membuat hipotesis bahwa anak-anak akan mengimbangi rasa inferior mereka dengan cara yang berliku-liku, yang tidak mempunyai hubungan jelas dengan tujuan fiksional mereka.
Contoh lain, yakni tujuan meraih superioritas bagi seorang anak perempuan yang manja -> untuk membuat hubungan yang bersifat parasit dengan ibunya menjadi permanen. Ketika dia dewasa, dia akan cenderung untuk mencela dirinya sendiri dan perilaku seperti ini akan terlihat tidak konsisten dengan tujuannya untuk meraih superioritas. Akan tetapi, hal ini juga terlihat cukup konsisten dengan tujuan tidak sadar dan kesalahpahaman terhadap hubungan bersifat parasit yang telah ditetapkan ketika dia masih kecil, ketika ibunya tampak besar dan berkuasa, dan kedekatan dengan ibunya menjadi cara yang alami untuk meraih superioritas. (Hal ini dapat dilihat di karakter Renata pada serial Amigos X Siempre).
Tetapi, hal sebaliknya akan terjadi pada anak yang mendapatkan cinta dan rasa aman sedari mereka kecil, mereka menetapkan tujuan yang sebagian besar disadari dan dipahami dengan jelas. Anak-anak yang secara psikologis merasa aman, berjuan meraih superioritas yang didefinisikan sebagai keberhasilan dan minat sosial. Meskipun tujuan mereka tidak pernah disadari secara utuh, individu-individu yang sehat ini mengerti dan mengejar tujuan mereka dengan tingkat kesadaran yang tinggi.

Daya Juang sebagai Kompensasi

Manusia berjuang meraih superioritas atau keberhasilan sebagai cara untuk mengganti perasaan inferior atau lemah. Daya juang sendiri merupakan bawaan, tetapi sifat dan arah daya juang ini ditentukan oleh perasaan inferior dan tujuan untuk meraih keunggulan. Sebagai sebuah kreasi dari seorang individu, tujuan bisa berbentuk apa saja. Tidak perlu berbentuk gambaran yang sama dari kelemahan seseorang, walaupun tujuan memang menjadi kompensasi dari kelemahan tersebut.
Contoh: Seseorang dengan tubuh yang lemah tidak perlu menjadi atlet yang tegap dan kuat, tetapi sebagai gantinya, ia bisa menjadi seorang seniman, aktor, atau penulis. 
Keberhasilan adalah konsep yang dibuat secara individu dan setiap orang memiliki definisinya masing-masing mengenai keberhasilan.
Adler memperkenalkan dua cara utama untuk berjuang. Pertama, usaha yang secara sosial tidak produktif untuk meraih superioritas pribadi. Kedua, mencakup minat sosial dan ditujukan untuk keberhasilan atau kesempurnaan setiap orang.

Berjuang Meraih Superioritas Pribadi

Beberapa orang berjuang untuk meraih superioritas hanya berfokus pada tujuan personal saja, dan jarang di anatara mereka yang memperhatikan orang lain, hal ini dimotivasi oleh perasaan inferior yang berlebihan atau munculnya inferiority complex. Contoh nyata dari inferiority complex adalah, pembunuh, pencuri, perampok, ataupun orang yang terlibat dalam bidang sosial tetapi hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, seperti pejabat yang korup. Orang-orang dalam contoh tersebut semuanya hanya berfokus pada diri pribadi mereka sendiri, bukan pada kepentingan sosial atau orang lain di sekitar mereka.

Berjuang Meraih Keberhasilan

Aspek ini adalah kebalikan dari poin penjelasan sebelumnya, pada aspek ini dijelaskan bahwa orang-orang yang sehat secara psikologis adalah mereka yang dimotivasi oleh minat sosial dan keberhasilan untuk semua umat manusia. Individu seperti ini tak jarang lebih mementingkan kepentingan orang banyak daripada kepentingan mereka sendiri, mereka akan dapat menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan, dan mampu melihat orang lain bukan sebagai lawan. Keberhasilan dicapai oleh mereka bukan dengan cara mengorbankan orang lain, tetapi merupakan kecenderungan alami untuk mencapai keutuhan dan kesempurnaan.

Baiklah, untuk sharing psikologi soal salah satu teori dari psikolog terkemuka dunia ini, kita sudahi sampai di sini. Sampai bersua kembali di posting-an selanjutnya. Happy Reading!!!


Komentar

Yang Sering Dikunjungi

[Resensi Film] - DILAN 1990 (2018), Panglima Tempur yang Tak Jadi Tempur

[Resensi Film] - Analisis Film A Beautiful Mind

[Resensi Film] - Sweet 20 (2017), Nostalgia Tembang Lawas

[Giveaway] - The Girl on Paper, bersama Penerbit Spring

[Resensi Film] - Kucumbu Tubuh Indahku (2019), Sebuah Potret Lengger Lanang