[Resensi Film] - Analisis Film A Beautiful Mind

Source: Google Image

Film A Beautiful Mind, adalah film besutan dari sutradara, aktor, sekaligus produser ternama—Ron Howard, yang juga merupakan sutradara yang telah menggarap film-film besar lainnya, seperti The Da Vinci Code, Apollo 13, Angels & Demon, dan masih banyak lagi yang lainnya, yang menurut sumber adalah Inferno yang diadaptasi dari novel best seller dengan judul yang sama karya Dan Brown juga akan disutradarai oleh Ron Howard.

A Beautiful Mind sendiri juga merupakan film yang diangkat dari novel biografi yang ditulis oleh Sylvia Nasar. Novel dengan tebal 459 halaman tersebut ditulis oleh Sylvia dengan sangat rinci, dan melibatkan orang-orang dalam hidup Nash untuk dapat diwawancarai sehingga dalam biografi tersebut akan ditemukan pandangan-pandangan terhadap Nash dari berbagai sudut pandang, yang di antaranya adalah saudara Nash (dalam film tokoh ini tidak dimunculkan), teman-teman Nash, teman Alicia (istri Nash), hingga mahasiswa-mahasiswa yang pernah diajar oleh Nash.

Baik dalam buku ataupun film A Beautiful Mind, diceritakan bahwa tokoh sentral dalam cerita ini, yaitu John Forbes Nash, adalah seorang matematikawan Amerika Serikat yang ahli dalam bidang teori permainan dan geometri diferensial. Nash adalah seorang yang jenius yang juga berhasil menciptakan konsep ekonomi yang kini dijadikan sebagai dasar dari teori ekonomi kontemporer—di mana pada saat itu, teori yang diciptakan oleh Nash ini bertentangan dengan teori Bapak ekonomi modern dunia, Adam Smith. Konsep inilah yang dikenal dengan teori keseimbangan, yang pada akhirnya mengantarkannya meraih gelar doktor, dan sekaligus membuat Nash diterima untuk menjadi peneliti dan pengajar di MIT.

Film A Beautiful Mind ini dibuka dengan Nash muda di tahun 1948 yang memulai hari-hari pertama kuliahnya di Universitas ternama, Princeton University. Nash adalah sosok yang sederhana, jenius, penyendiri, pemalu, rendah diri, introvert, sekaligus aneh. Di samping itu, sosok Nash juga dikenalkan sebagai pribadi yang arogan karena kepandaian yang dia miliki. Hal ini ditujukan ketika Nash lebih memilih untuk meninggalkan kelas dan belajar di luar kelas sendiri, Nash beranggapan bahwa dengan dia mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas, maka hal itu akan membuat otaknya tumpul dan dapat menghilangkan ide orisinal yang dia miliki. Hal inilah yang membuat dia juga tertinggal dari teman-temannya untuk menerbitkan jurnal-jurnal untuk bidang ilmu yang mereka tekuni, karena dia menganggap untuk sekedar menerbitkan sebuah jurnal maka ide yang diangkat untuk menjadi jurnal itu haruslah ide orisinal yang lahir dari pemikiran sendiri, tidak dipengaruhi oleh gaya berpikir tokoh lain.

Di saat kondisi Nash semakin terhimpit karena dia belum juga menemukan ide orisinal untuk laporan disertasinya, di saat itulah Nash bertemu dengan Charles Herman yang tak lain adalah teman sekamar Nash (pada pertengahan cerita diketahui bahwa sosok Charles ini hanyalah delusi yang dialami oleh Nash). Obsesi Nash untuk menciptakan sebuah teori baru digambarkan dari kegiatannya yang suka sekali menulis rumus-rumus persamaan di jendela kamarnya, selain itu Nash juga mencari inspirasi untuk teorinya dari hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitarnya, seperti pergerakan burung merpati yang sedang berebut makan di halaman taman ataupun kejadian pencopetan yang terjadi di jalan raya.

Dengan hadirnya Charles di kehidupan Nash, membuat kehidupan Nash menjadi lebih hidup. Nash mempunyai teman untuk membicarakan keluh kesahnya dan semua beban yang mengganjal di pikirannya.

Setelah Nash akhirnya dapat meraih gelar doktornya, Nash mengajar di MIT. Dan pada saat itulah Nash diminta untuk datang ke Pentagon untuk memecahkan sandi rahasia yang dikirimkan tentara Sovyet. Kemudian Nash bertemu dengan agen rahasia William Parcher. Oleh Parcher, Nash diberikan tugas untuk memecahkan sandi-sandi lainnya yang bisa ditemukan dari beberapa surat kabar, sekaligus menjadi mata-mata. Pekerjaan baru Nash inilah yang akhirnya membuat Nash terobsesi dan mengesampingkan hubungannya dengan orang lain di sekitarnya, Nash lebih berfokus dan sibuk dengan dunianya sendiri.

Hingga pada satu waktu Nash bertemu dengan Alicia Larde, seorang mahasiswi di kelas Nash yang berhasil menarik perhatian Nash. Melalui Alicia, Nash bisa menemukan cinta dan membuat hidupnya lebih berarti. Nash dan Alicia akhirnya menikah. Tetapi, pada saat itulah kondisi Nash semakin buruk, dengan dia merasa bahwa keadaannya dan Alicia terancam oleh tentara Sovyet yang tak segan-segan untuk membunuh mereka karena pekerjaannya sebagai mata-mata pemerintahan.

Kisah Nash mencapai klimaks ketika dia sedang mengisi sebuah seminar di Harvard. Di mana dia saat itu bertemu dengan sahabat lamanya, yaitu Charles. Namun pada saat itu Charles tidak datang sendiri, Charles datang bersama dengan anak gadis kecil—Marcee, yang tak lain adalah keponakan Charles yang dititipkan kepadanya karena orang tua Marcee meninggalkan Marcee. Di tengah acara saat Nash mengisi seminar, Nash merasa ketakutan saat dia melihat tiga orang berbaju hitam sedang memperhatikan setiap geriknya, yang mana menurut Nash orang-orang inilah yang akhir-akhir ini selalu meneror kehidupannya. Nash berpikiran bahwa orang-orang ini adalah mata-mata pemerintahan Sovyet yang tak akan segan-segan untuk membunuhnya. Dan diketahui setelah pengejaran akan Nash ini, ternyata orang-orang ini adalah anak buah Dr. Rosen—seorang ahli jiwa. Kehadiran Dr. Rosen inilah yang nantinya memberikan jawaban atas kehadiran Charles, Marcee, dan Parcher—yang ternyata ketiga tokoh itu adalah delusi yang dialami oleh Nash.

Sepertiga dari film A Beautiful Mind ini menceritakan perjuangan Nash untuk melawan penyakitnya. Dan tentu saja, Nash sangat bersyukur karena kehadiran Alicia yang selalu memberikan dukungan moril kepadanya untuk dapat melawan penyaktinya dan sembuh kembali seperti sedia kala.

Akhir cerita dari film ini diperlihatkan ketika Nash mendapatkan penghargaan nobel dalam bidang ekonomi pada tahun 1994, meskipun pada awalnya Nash berpikiran bahwa orang seperti dirinya tidak mungkin mendapatkan penghargaan bergengsi seperti itu.

Analisis Film Berdasarkan Perspektif Psikologi.

Dalam film A Beautiful Mind, diketahui bahwa Nash menderita skizofrenia paranoid, di mana penyakit mental ini membuat penderitanya menyakini bahwa orang lain ingin membahayakan dirinya. Selain itu, keadaan ini juga didefinisikan sebagai gangguan mental yang ditandai dengan kecurigaan yang tidak rasional atau logis. Skizofrenia paranoid ditandai dengan simptom-simptom atau indikasi sebagai berikut:
1. Adanya delusi atau waham, yakni keyakinan palsu yang dipertahankan.
  • Waham Kejar (delusion of persecution), yaitu keyakinan bahwa orang atau kelompok tertentu sedang mengancam atau berencana membahayakan dirinya. Waham ini menjadikan penderita paranoid selalu curiga akan segala hal dan berada dalam ketakutan karena merasa diperhatikan, diikuti, serta diawasi. Contoh: Saat Nash merasa bahwa dirinya dan Parcher sedang dikejar-kejar oleh kelompok bersenjata yang telah mengikutinya saat dia mengirimkan hasil pemecahan sandi yang dia lakukan.
  • Waham Kebesaran (delusion of grandeur), yaitu keyakinan bahwa dirinya memiliki suatu kelebihan dan kekuatan serta menjadi orang penting. Contoh: Nash merasa bahwa dia adalah orang jenius yang bisa menjadi agen mata-mata paling handal.
  • Waham Pengaruh (delusion of influence), adalah keyakinan bahwa kekuatan dari luar sedang mencoba mengendalikan pikiran dan tindakannya. Contoh: Saat Nash diyakinkan oleh Charles, Marcee, dan Parcher untuk membunuh Alicia.

2. Adanya halusinasi, yaitu persepsi palsu atau menganggap suatu hal ada dan nyata padahal kenyataannya hal tersebut hanyalah khayalan.
Contoh: Hal ini telihat saat Nash mulai mengenal Charles, dan tokoh-tokoh lainnya yang tak lain adalah khayalannya saja.
3. Gejala motorik dapat dilihat dari ekpresi wajah yang aneh dan khas diikuti dengan gerakan tangan, jari, dan lengan yang aneh dan juga dapat dilihat dari cara berjalannya.
Contoh: Saat Nash berjalan seperti dia sedang menyeret kaki sebelah kanannya, padahal Nash tidak mempunyai kelainan secara fisik. Dan karena hal ini pula Nash sempat menjadi bahan bully yang dilakukan mahasiswa lainnya setelah Nash akhirnya memutuskan untuk kembali ke lingkungan akademik setelah pengobatan panjangnya.
4.  Adanya gangguan emosi
Contoh: Saat Alicia mengambil alih sebagai tulang punggung keluarga, akhirnya Nashlah yang diberikan tanggung jawab untuk menjaga anak mereka. Pada satu sore ditemukan saat Nash sedang memangku anaknya dengan wajah yang tidak menunjukan ekspresi apapun.
5. Penarikan sosial (social withdrawl), pada umumnya tidak menyukai orang lain dan menganggap orang lain tidak menyukai dirinya sehingga dia hanya memiliki sedikit teman.
Contoh: Dari dialog yang sering diucapkan oleh Nash, “Aku tak terlalu suka berhubungan dengan orang dan rasanya tak ada orang yang menyukaiku.” Dari situ menunjukan bahwa Nash memang tidak mempunyai ketertarikan di lingkungan sosialnya untuk membaur dengan teman-temannya yang lain. Selain itu, Nash juga lebih memilih untuk menyendiri di perpustakaan atau di kamar asramanya, yang tak lain ia lakukan agar dia dapat menemukan konsep teori yang baru dari beberapa percobaan yang dia lakukan.
Diduga, penyebab gangguan kepribadian ini disebabkan oleh respon pertahanan psikologis (mekanisme pertahanan diri) yang berlebihan terhadap berbagai stress atau konflik terhadap egonya dan biasanya sudah terbentuk sejak usia muda. Di mana dalam film A Beautiful Mind digambarkan stressor yang dialami oleh Nash adalah:
  • Ambisi berlebih yang dimiliki oleh Nash untuk dapat memecahkan Hipotesis Reiman, yang tak lain adalah momok bagi para matematikawan.
  • Suasana politik dan perang yang terjadi di negaranya, dan hal ini membuat Nash merasa takut dan khawatir.
  • Merasa gagal karena dia telah didahului oleh teman-temannya yang lain untuk mendapatkan gelar doktor.
  • Merasa tidak bisa melayani istrinya (paska pengobatan).
  • Keadaannya yang tidak bisa mendapatkan pekerjaannya kembali (paska pengobatan).


Dalam film tersebut John Nash dibawa ke rumah sakit jiwa dan mendapatkan perawatan ECT (Electroshock Therapy) atau terapi elektrokonvulsif 5 kali seminggu selama 10 minggu. Setelah menjalani perawatan di rumah sakit jiwa, John Nash menjalani perawatan di rumah dengan Obat Psikoterapetik. Obat ini harus terus diminum secara teratur oleh penderita skizofrenia. Selain terapi biologis, John Nash juga mendapat terapi dari isterinya yaitu berupa dukungan sosial yang diberikan kepadanya, rasa empati, penerimaan, mendorong untuk mulai berinteraksi sosial (dengan tukang sampah), dan dorongan untuk tidak berputus asa dan terus berusaha. Terapi Sosial ini sangat membantu penderita skizofrenia dalam menghadapi peristiwa – peristiwa yang menjadi stressor bagi penderita.


Credit By: 



Yang Sering Dikunjungi

[Resensi Film] - DILAN 1990 (2018), Panglima Tempur yang Tak Jadi Tempur

[Resensi Film] - Sweet 20 (2017), Nostalgia Tembang Lawas

[Psikologi] - Victim Blaming Tendencies pada Korban Pemerkosaan

[Resensi Film] - LION (2016), Jalebi Mengingatkanku Pulang