Kita adalah kita

Karena kita adalah kita.

Kita bukanlah produk masa lalu yang mengalami fiksasi di salah satu fase perkembangan kita, kita bukanlah robot yang hanya bergerak oleh stimulus dari hal-hal di sekitar kita, dan kita bukanlah kumpulan sistem yang bisa bertahan karena adanya pemberian reinforcement dari orang lain kepada kita.

Jika kita dilahirkan dalam keadaan seperti kanvas yang bersih, atau yang lebih dikenal dengan tabula rasa, maka menjadi berwarnanya kita adalah karena kita. Yakni, kita dalam artian penuh sebagai kita yang bebas secara fundamentalis.

Maka, jika kita tidak menyukai warna di kanvas yang kita punyai, jangan salahkan dan mengambinghitamkan lingkungan, teman-teman, atau bahkan orang tua kita. 
Karena warna apa yang ada di sana, itulah identitas kita, warna yang kita yang pilih--warna yang kita mau.


-||-


Komentar

Yang Sering Dikunjungi

[Ulasan Buku] - Doctor Zhivago

[Resensi Film] - DILAN 1990 (2018), Panglima Tempur yang Tak Jadi Tempur

[Resensi Film] - Analisis Film A Beautiful Mind

[Resensi Film] - Kucumbu Tubuh Indahku (2019), Sebuah Potret Lengger Lanang

[Resensi Film] - Sweet 20 (2017), Nostalgia Tembang Lawas