[Bukan Puisi] - Kita?


Ke mana perginya jemari itu?
Yang dulu kerap mencari tanganku untuk mendekap tubuhnya,
Ke mana perginya tangan itu?
Yang pernah tanpa alpa menarikku untuk bisa berjalan sejajar dengan si empunya?
Tak ada lagi senyum kesederhanaan yang dulu kuagungkan
Tak ada lagi suara syahdu yang dulu selalu aku ingin dengar
Malam
Telah
Luluh
Lantah
Pada
Abai
Yang
Tak
Kau
Tau

Ingatkah?
Bahwa perempuan yang sering kau tangiskan ini, adalah perempuan yang sama dengan perempuan yang kerap membesarkan hatimu,
Dengan keadaanmu, dengan pengakuanmu, perempuan ini menerima tanpa ragu

Tuan, pernahkah nama perempuan ini kau selipkan dalam bait-bait bahagiamu?
Ataukah, namanya hanya hidup dalam potongan-potongan lara sarat dengan segala tangis yang kau bangun tanpa jemu?

Perempuanmu hanyalah perempuan
Dengan segala kerumitan yang dia pun sendiri tak dapat mengartikan siapa dirinya
Dia seorang pengembara, sama denganmu, dan yang lainnya
Tak jarang ia jatuh pada langkah yang salah
Tak jarang ia patah pada hal-hal yang entah

Bukankah ucapan selamat tinggal adalah perayaan puncak untuk sebuah kata yang berarti “kita”?
Kurasa
Ia


Komentar

Yang Sering Dikunjungi

[Resensi Film] - DILAN 1990 (2018), Panglima Tempur yang Tak Jadi Tempur

[Resensi Film] - Sweet 20 (2017), Nostalgia Tembang Lawas

[Resensi Film] - Analisis Film A Beautiful Mind

[Ulasan Buku] - PULANG

[Ulasan Buku] - Doctor Zhivago