[Ulasan Buku] - Jawaban




Judul: Jawaban | Penulis: Widita Rahmah
Penerbit: IBC | Jumlah Hlm.: 90 hlm
Cetakan Pertama, 2016 | ISBN: 978-602-3091-21-8
Rating Buku: 3/5


Jawaban—merupakan buku kumpulan puisi yang ditulis oleh Widita Rahmah, berisi 52 puisi dengan tema berbeda yang bersumber dari segala tanda tanya besar dalam kehidupannya. Kita, sebagai manusia yang hidup dengan begitu banyak konflik, pergumulan emosi, dan naik-turunnya hubungan dengan Tuhan kita—adalah hal-hal yang tidak akan bisa terlepas selama kaki kita masih berpijak pada bumi tempat kita bernaung. Sebagian orang akan menganggap segala tanya dalam kehidupan mereka adalah sebuah angin lalu yang tidak harus diacuhkan, tetapi tak sedikit juga yang menaruh perhatian begitu besar pada kehadirannya sehingga bisa berakhir menjadi sebuah karya atau penemuan besar yang akan selalu diingat dan hidup setelah kehidupan itu sendiri lepas dari si penulis.

Widita Rahmah, seorang penulis muda yang berdomisili di Bandung--adalah satu contoh dari banyak penulis yang karya-karyanya terilhami dari segala gejolak kehidupan yang dialaminya. Hal ini dapat kita temui di dalam buku Jawaban, dalam buku ini dua tema besar yang diangkat adalah perihal hubungan antara si penulis dengan Tuhan dan manusia—maka di dalamnya kita akan menemukan beberapa puisi yang secara syahdu menceritakan malam-malam yang dihabiskan penulis untuk bercakap dengan Tuhan, ataupun puisi yang menggambarkan dalamnya kehilangan pada manusia yang pada masanya mencintainya. Menulis puisi bukan suatu hal mudah, bukan juga suatu hal yang susah, bukan begitu? Selama kita mempunyai apresiasi atau perenungan yang baik atas apa yang terjadi pada kehidupan kita, dan kita telah berteman akrab dengan sebut saja kertas dan pena, maka tak ayal puisi akan segera lahir setelahnya.
Dari 52 puisi yang terdapat dalam buku ini, saya mempunyai jagoan atau satu puisi yang berhasil mencuri hati saya, puisi ini berjudul Kosong (halaman 46), dan berikut salinan dari puisi tersebut:

Kosong

Untuk setiap bintang-bintang yang telah jatuh dari langit
Dan setiap malam saat kita merasa begitu dingin
Sebuah kekosongan…
Adalah milik semua manusia
Dunia tak tahu
Kita yang perlu tahu
Katakanlah! Teriakanlah!
Menjeritlah!
Dan tak akan pernah cukup
Aku berkata pada angin yang tiba tak dari mana pun…
Dan pergi tak pasti…
Aku berkata pada gugus kecil hati yang sepi
Menuangkan air mata
Jatuh ke pipi
Aku berdiri di atas bumi, sementara aku merasa
Seperti menggali kuburku…
Aku berdiri di atas bumi, sementara aku merasa
Seperti mengubur jiwaku…
Aku berdiri di atas bumi, sementara mata, telinga,
Dan hatiku berada dalam kesakitan yang jauh…
Sangat jauh

Aku tak mengerti
Bagaimana
Lalu untuk semua surat yang kusisakan
Saat ini, aku sekarat dalam damai
Karena aku memberitahumu

(Kosong, halaman 46-47)

Pada saat membaca puisi di atas, saya bisa merasakan kekosongan yang begitu dalam yang penulis rasakan, bukankah seburuk-buruknya waktu adalah saat diri kita merasa kosong dan tak diingat oleh yang lainnya?
Selama membaca buku ini, saya harus dengan secara otomatis memisahkan, mengategorikan, kira-kira tema apa yang kali ini diangkat oleh si penulis. Dan, jika teman-teman merasa akan menemukan kesulitan untuk mencerna diksi pada puisi, maka hal itu tidak perlu ditakutkan saat membaca buku ini—pemilihan diksi yang sederhana dan terkesan apa adanya akan membuat kita lebih mudah untuk mengerti maksud atau makna tersembunyi yang ingin disampaikan oleh penulis.
Lain dari pada itu, entah ini memang format penulisan yang telah dipilih dan disepakati antara penulis, editor, dan pihak penerbit, atau bagaimana, adanya spasi per bait yang begitu jauh untuk beberapa judul puisi ini kadang mengganggu saya, tapi ya sekali lagi hal tersebut bukan suatu yang prinsipiil sehingga saya harus memberi nilai minus.
Dan, untuk teman-teman yang menyukai puisi tapi tidak ingin dipusingkan dengan diksi yang terlalu “wah”, maka buku ini layak untuk dikonsumsi.

Baiklah, sebelum saya mengakhiri ulasan ini maka izinkan saya untuk mengucapkan terima kasih kepada Kak Pio yang telah mengirimkan buku ini kepada saya dan mempercayakan kepada saya untuk mengulas isi buku ini.

Hingga kutemukan apa yang kucari dan menjadikannya…sesederhana lautan yang berbuih (Pencarian, dalam buku Jawaban, halaman 78-79)


Komentar

Yang Sering Dikunjungi

[Resensi Film] - DILAN 1990 (2018), Panglima Tempur yang Tak Jadi Tempur

[Resensi Film] - Sweet 20 (2017), Nostalgia Tembang Lawas

[Resensi Film] - Analisis Film A Beautiful Mind

[Ulasan Buku] - PULANG

[Ulasan Buku] - Doctor Zhivago