[Resensi Film] - LION (2016), Jalebi Mengingatkanku Pulang

Sumber Gambar: Google Image


Sutradara: Garth Davis | Produser: Ian Canning, Angie Fielder, Emile Sherman
Screenplay: Luke Davies | Based on: A Long Way Home
Pemain: Sunny Pawar, Dev Patel, Rooney Mara, David Wenham, Nicole Kidman, Abhisek Bharate, Priyanka Bose | Rumah Produksi: See-Saw Films, Aquarius Films, Screen Australia, The Weinstein Company, Sunstar Entertainment, Cross City | Distribusi: The Weinstein Company, Transmission Films, Entertainment Film Distributors | Tahun Rilis: 2016
Durasi: 118 Menit | Genre: Biography, Drama | Rating: 4/5


“Do you have any idea what it's like knowing my real brother and mother spending every day of their lives looking for me? How every day my real brother screams my name? Can you imagine the pain they must be in not knowing where I am?” – Saroo


Sumber Gambar: Google Image


LION—atau dalam bahasa India berarti Sheru adalah sebuah film biopik yang dirilis pada tahun 2016, namun film ini baru bisa dinikmati oleh penikmat film tanah air pada awal tahun 2017. Berangkat dari sebuah novel berjudul A Long Way Home, LION berkisah tentang perjalanan Saroo Brierley untuk menemukan keluarganya di India dengan menggunakan bantuan Google Earth.
LION, dibuka dengan scene yang memperlihatkan sosok Saroo kecil (Sunny Pawar) berusia 5 tahun tengah bermain dengan kupu-kupu, kemudian diperlihatkan sosok Guddu (Abhisek Bharate)—kakak Saroo—berdiri di kejauhan dan memanggil nama Saroo. Pada opening scene ini, Garth Davis seperti memberikan warning kepada penonton mengenai film apa yang akan mereka saksikan selama 118 menit ke depan.
Film ini dibagi menjadi dua bagian, di mana pada setengah bagian pertama bercerita mengenai  Sarro kecil yang hidup dan dibesarkan dalam keluarga serba kekurangan dalam segala hal, bahkan untuk mendapatkan dua kantung susu saja mereka harus melakukan pekerjaan berat dan berbahaya untuk usia mereka. Saroo kecil bisa dibilang seorang anak yag keras kepala dan gigih untuk membantu kakaknya, ikatan yang terjalin antara kakak-beradik yang dibawakan oleh Sunny dan Abhisek ini bisa ditransfer secara mulus kepada para penonton—ketika saya menontonnya, saya seperti bisa merasakan bagaimana mereka saling menyayangi, sekali lagi Garth Davis memberikan eksekusi yang apik mengenai bonding dua bersaudara ini.
Lalu, pada suatu malam Guddu harus pergi mencari apa saja yang bisa ia kerjakan untuk dapat menghasilkan uang, dan tepat pada saat itulah Saroo kecil memaksa ikut, dengan susah payah Guddu menolak permintaan Saroo, akan tetapi pada akhirnya ia menyerah dan mengizinkan Saroo ikut dengannya.
Mereka berdua pergi ke sebuah stasiun, menyisir peron dan gerbong untuk bisa melihat kesempatan baik bagi mereka berdua. Saat waktu semakin larut dan Saroo kecil jatuh tertidur, Guddu menidurkan Saroo pada sebuah kursi di peron stasiun dan meminta kepada adiknya ini untuk menunggunya di situ sampai ia datang. Dengan janji akan membawakan banyak kue jalebi, Guddupun meninggalkan Saroo. Namun, kesabaran Saroo tak bisa mengaminkan apa yang diminta oleh kakaknya, ia merasa bosan dan pada akhirnya ia memutuskan untuk menyusul kakaknya. Akan tetapi, setelah banyak usaha yang ia keluarkan untuk mencari Guddu malah berujung pada kenyataan bahwa ia tertidur pada sebuah kursi di dalam kereta yang tanpa ia sadari bergerak menjauh dari tempat di mana Guddu menyuruhnya menunggu.
Setelah bergerak semakin jauh dari tempat asalnya, Saroo menginjakkan kaki di Kolkata (sebelumnya disebut Kalkuta), sebuah kota yang jauh lebih besar dari tempatnya berasal. Dengan keadaan Saroo yang belum bisa membaca dan tanpa pemahaman bahasa Bengali, perjalanan Saroo dimulai. Di sini kita menyaksikan bagaimana seorang anak kecil yang terpisah dari kakaknya dan harus mencari jalan pulang kembali ke rumahnya, di tempat yang tak ia kenali, dengan bahasa yang tak ia mengerti, Saroo mencoba bertahan, dan sekali lagi acting Sunny Pawar di sini memang dapat dengan mudah sekali untuk sekadar mengajak para penonton untuk turut serta merasakan apa yang ia rasakan. Tidak akan saya jelaskan bagaimana perjalanan Saroo secara detail, tetapi tentu saja seperti yang kita ketahui bahwa Saroo akhirnya dipertemukan dengan Sue (Nicole Kidman) dan John Brierley (David Wenham) yang mengadopsi Saroo menjadi anak mereka.
Kemudian, setengah bagian kedua film ini kita diajak untuk melihat bagaimana keadaan Saroo setelah 20 tahun hidup dengan kehidupan barunya bersama keluarga Brierley. Saroo (Dev Patel), seorang pria muda dengan ambisi hidup yang tinggi memutuskan untuk pindah ke Melbourne untuk menempuh studi Manajemen Perhotelan. Tanpa disangka, di tempat barunya ini Saroo bertemu dengan banyak teman yang berasal dari India. Hingga tibalah pada suatu malam ketika Saroo dan teman-temannya berkumpul, dan di sana Saroo ditempatkan pada titik balik yang akhirnya membuat dia ingat kembali dengan keluarganya di India. Memang akan menimbulkan pertanyaan, mengapa harus menunggu 20 tahun untuk Saroo kembali ingat, dan kenapa hanya sebuah kue jalebi yang membawanya ingin pulang dan mengingat kakanya—tentu saja saya juga ingin menanyakan hal tersebut, akan tetapi akan saya ingatkan bahwa film LION ini adalah film yang  mengajak kita untuk ‘ayo, tonton, nikmati saja’, kenapa? Karena kalau kita terlalu mempermasalahkan hal-hal seperti ini, atau bahkan membicarakan bagaimana film LION secara teknis, oh, ayolah, hal itu hanya akan merusak emosi film yang telah dibangun sedari awal. Jadi, saran saya, nikmati saja. Hanya itu.

☺☺☺☺☺

JIKA membandingkan antara dua bagian film LION—maka di awal bagian kedua sampai beberapa saat sebelum film ini selesai, LION seperti kehilangan taringnya, seperti kehilangan emosinya. Saya sangat menikmati apa yang disampaikan oleh Sunny Pawar, sangat mencintai bagaimana Sunny dan Abhisek lewat acting mereka yang natural—namun hal ini tidak terlalu saya rasakan pada perpindahan bagian ini.
Emosi yang sempat hilang dari penonton tak lama dikembalikan oleh Garth Davis saat Saroo bertemu dengan ibu kandungnya. Tanpa berkata apa-apa, namun apa yang disuguhkan oleh Dev Patel dan Priyanka Bose yang tanpa banyak dialog hanya keduanya saling bertukar tatap saja, ini sudah jauh dari cukup, eksekusi yang sekali lagi sangat memuaskan dari Garth Davis.

Sumber Gambar: Google Image

Sebenarnya ada beberapa bagian yang menurut saya hanya diperlihatkan secara dangkal atau hanya sebagai pemanis saja dalam film ini, kita ambil contoh scene ketika Saroo dan Lucy (Rooney Mara) berjalan bersebarangan di jalan menuju flat mereka masing-masing, cara bagaimana Lucy berjalan dan berlari kecil menurut saya merupakan sentuhan bolywood yang sengaja diberikan oleh Garth Davis dalam LION dengan latar Melbourne—namun, seperti yang saya katakana sebelumnya bahwa scene tersebut hanya sebuah pemanis yang mengajak penonton untuk tersenyum sejenak sebelum harus mulai menangis lagi untuk mengikuti perjalanan Saroo untuk pulang.

☺☺☺☺☺

BUKAN SEBUAH TRIVIA, tapi saya akan membahas lebih banyak mengenai Manthos—saudara tiri Saroo saat dibesarkan dalam keluarga Brierley. Seorang teman bertanya kepada saya mengenai keadaan Manthos atau sebenarnya apa yang terjadi kepada Manthos. Baiklah, marilah kita mengingat kembali bagaimana karakter Manthos dikenalkan dalam film LION.
Manthos sama dengan Saroo, seorang anak India yang kemudian diadopsi oleh keluarga Brierley, yang saya bisa pastikan apa yang dialami oleh Saroo sebelum akhirnya diadopsi, hal ini juga dialami oleh Manthos. Berangkat dari asumsi itu, kita bisa memastikan bahwa hidup Manthos tidaklah mudah. Saat pertama kali tiba di rumah keluarga Brierley, Manthos memperlihatan respon yang bagi kebanyakan orang adalah aneh atau berlebihan. Manthos awalnya hanya melihat semuanya dengan diam, namun tak lama dari itu Manthos kemudian membenturkan kepalanya ke kaca televisi. Sue dan John berusaha keras untuk menenangkan Manthos.
Ketika Manthos sudah dewasa pun, dikatakan oleh Sue bahwa Manthos adalah anak yang sebenarnya cerdas, hanya saja dia tidak bisa mengendalikan emosi yang dimiliki. Hal ini terlihat ketika Manthos dan Saroo duduk makan malam bersama dan berujung Manthos memukul kepalanya sendiri dengan sendok berulang kali. Lalu, sebenarnya ada apa dengan Manthos?
Berangkat dari apa yang disampaikan oleh Sue, ada kemungkinan bahwa Manthos mengalami kesulitan dalam hal meregulasi emosi yang ia miliki. Menurut Richard dan Gross (2000), regulasi emosi adalah suatu pemikiran atau perilaku yang dipengaruhi oleh emosi. Ketika mengalami emosi yang negatif, orang biasanya tidak bisa berfikir dengan jernih dan melakukan tindakan di luar kesadaran. Lebih tepatnya, regulasi emosi adalah bagaimana seseorang dapat menyadari dan mengatur pemikiran dan perilakunya dalam emosi-emosi yang berbeda (emosi positif ataupun negatif).
Individu yang mempunyai masalah dalam meregulasi emosi, maka akan ada kecenderungan untuk melakukan self injury. Self injury merupakan suatu metode yang digunakan untuk mempertahankan hidup dan merupakan metode coping terhadap keadaan emosional yang sulit seperti kecemasan, stress, dan perasaan negatif lainnya (Alderman dan Connors, 2005). Self injury adalah salah satu cara yang sering dipilih sebagai cara yang paling efektif untuk menanggulangi masalah yang sedang dihadapi, meskipun harus menyakiti diri sendiri (Walsh, 2006).
Melihat pola perilaku Mantosh, self injury yang dilakukannya lebih dikenal sebagai stereotypic self injury, merupakan self injury yang bersifat lebih ringan namun sifatnya lebih berulang (Strong, 1998).  Self injury tipe ini meliputi perilaku berulang seperti membenturkan kepala pada lantai, memukul kepala dengan benda-benda yang ada di sekitarnya, dan perilaku-perilaku yang sifatnya berulang lainnya. Individu yang dikelompokan dalam tipe self injury ini biasanya memiliki kelainan saraf seperti autisme ataupun sindrom tourette.
Bermodal pengertian di atas, maka jangan merasa aneh atau melabeli orang-orang seperti Mantosh sebagai individu aneh yang harus dijauhi. Karena bagaimanapun, mereka tetaplah saudara yang harus kita jaga dan kita maknai dengan baik keberadaannya.

☺☺☺☺☺

Saya bersama ipehalena.com diberikan sebuah pertanyaan mengenai film ini oleh teman kami jejakjuli.com—menurutnya, pelajaran apa yang bisa kami ambil dari film ini? Jawaban saya secara subjektif adalah tentu saja mengenai pulang kembali ke rumah itu sendiri. Kenapa? Saya adalah seorang yang bisa dikatakan perantau yang harus pergi jauh dari rumah untuk meneruskan pendidikan saya dan akhirnya bekerja seperti saat ini. Selama hampir 10 tahun saya merantau, nampaknya saya tidak seperti teman-teman lainnya yang selalu ingin pulang, yang selalu rindu kampung halaman—tidak, saya bukan orang seperti itu. Bisa dikatakan saya jarang pulang, bagaimana tidak, saya hanya pulang ke rumah setahun sekali saat hari raya idul fitri, selebihnya? Kalau ada hal-hal mendesak saja saya pulang. Rindu kampung halaman? Ini juga jarang terjadi, entah kenapa. Maka dari itu, melalui film ini saya diingatkan kembali bahwa ada orang-orang yang selalu menunggu kepulangan saya di sana. Mereka tak mengharapkan suatu apapun, sebuah kabar bahwa saya sehat dan berkumpul kembali di rumah adalah satu-satunya hal yang lebih besar dari apapun untuk keluarga saya.
Jika teman pembaca lainnya belum menonton film ini, saya sarankan untuk segera menontonnya—akan tetapi perlu saya ingatkan bahwa siapkan tisu sebelum memulainya. Dan pada akhirnya, di manapun kaki ini memulai untuk melakukan sebuah perjalanan, maka kaki pula yang akan membuat langkah pertama untuk mencari jalan pulang.


Selamat Menonton


Sumber tertulis:
Richards, J. M., Gross, J. J. (2000). Emotion Regulation and Memory: The Cognitive Costs of Keeping One’s Cool. Journal of Personality and Social Psychology, 79(3), 410-424. doi: 10.1037/0022-3514.79.3.410
Walsh, B. W. (2006). Treating Self Injury: A Practical Guide. NY: The Guilford Press
Strong, M. (1998). A Bright Red Scream: Self Mutilation and The Language of Pain. NY: Penguin



Komentar

  1. Bahkan saya ngeskip bagian percintaan Saroo gede. Ga begitu menarik mending lanjut ke usaha si Saroo belajar peta India sambil ngitung jarak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahaha... Kebanyakan orang akan melakukan hal yang sama.

      Padahal Rooney Mara gitu ya yang meranin, hish.

      Hapus
  2. Kok sama sik. Gua juga ngerasa kehadiran Rooney Maray di film ini hampir nggak ada fedahnya. Cuma pelengkap. Konflik batin pada Saroo dewasa memang kurang gereget sih, tapi cukup memuaskan buat gua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Jul. Kurang greget, rasa frustasinya juga kurang ngegigit.

      Hapus

Posting Komentar

Yang Sering Dikunjungi

[Resensi Film] - DILAN 1990 (2018), Panglima Tempur yang Tak Jadi Tempur

[Resensi Film] - Sweet 20 (2017), Nostalgia Tembang Lawas

[Psikologi] - Victim Blaming Tendencies pada Korban Pemerkosaan

[Resensi Film] - Analisis Film A Beautiful Mind