[Ulasan Buku] - A List of Cages


Judul: A List of Cages | Penulis: Robin Roe
Penerbit: Spring | Penyunting: RoseMia
Jumlah Hlm.: 372 hlm | Cetakan Pertama, Januari 2018
ISBN: 978-602-6682-12-3 | Rating Buku: 5/5


“Ibuku pernah mengatakan bahwa planet ini seperti rahim yang sangat besar, dan kita masing-masing adalah janin. Kematian bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Kematian hanyalah kelahiran ke dunia lain, dan seseorang akan menunggu kita di sana.” (Hlm. 177)

***

Adam begitu gembira bisa bertemu lagi dengan Julian saat bekerja sebagai pendamping psikolog sekolah. Meskipun duduk diam bukanlah hal yang mudah bagi ADHD-nya, tapi Adam tidak bisa mengeluh.

Awalnya, Julian adalah anak yang seperti yang Adam kenal lima tahun yang lalu. Julian masih anak yang ramah, masih suka menulis cerita, dan menyukai buku cerita bergambar untuk anak-anak. Namun kemudian, Adam menyadari Julian menyembunyikan sesuatu.

Hanya saja, meskipun Adam berniat untuk membantu, rahasia itu bisa saja membuat mereka kehilangan nyawa…

***

A LIST OF CAGES, adalah novel pertama yang ditulis oleh Robin Roe yang juga berdasarkan apa yang pernah dialami oleh Roe, baik yang ia alami sendiri secara langsung ataupun dari yang pernah dialami orang-orang terdekatnya. Maka tak akan heran jika Roe bisa menggambarkan apa yang ingin ia ceritakan dengan baik, karena ia tahu dengan baik apa yang ingin ia sampaikan.

Novel ini merupakan novel remaja yang berpusat pada kisah persahabatan dua anak laki-laki, Adam dan Julian. Meski begitu, novel ini tidak seperti novel-novel remaja lainnya yang terkesan light, penuh warna, dan hangat—A List of Cages menawarkan isu yang lebih serius, meski isu ini sudah sering kita jumpai, namun Roe berhasil mengemasnya dengan apik dan sangat emosional. Selain isu child abuse yang merupakan isu pertama yang diangkat dalam novel ini, Roe juga mengajak pembaca untuk berkenalan dengan disleksia, ADHD, dan sekilas mengenai PTSD meski hanya disebutkan secara sekilas—perpaduan yang sangat kompleks jika dijadikan sebagai premis novel remaja.

Novel ini dibangun secara pelan namun pasti, dan hal itulah yang membuat novel ini menjadi sangat emosional dan pembaca bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Julian secara khusus. Julian adalah seorang siswa fresman (sebutan untuk siswa tingkat pertama di Sekolah Menengah Atas pada sistem pendidikan di US), secara umum ia tampak seperti anak-anak pada umumnya, namun jika diperhatikan, Julian terlihat sedikit berbeda dan hal ini membuatnya mesti bolak-balik ke ruangan Dr. Whitlock—seorang psikolog di sekolah Julian dan Adam.

Kondisi Julian yang istimewa itulah yang membuatnya bertemu dengan Adam, bukan ketika di SMA, tetapi sebelumnya mereka sudah dipertemukan ketika Julian mesti mengikuti kelas perbaikan membaca ketika ia tingkat dua sekolah dasar bersama dengan anak-anak TK yang usianya jauh di bawahnya. Saat itu Adam merupakan siswa tingkat kelima dan menjadi kakak pendamping atau yang sering kita kenal dengan sebutan kakak baca. Dan setelah beberapa kali pertemuan antara keduanya, Adam mengetahui bahwa Julian mengalami disleksia—sebuah kondisi ketidakmampuan membaca, atau kerusakan pada fungsi membaca[1].

Antara Julian dan Adam, keduanya sangat berbeda, sangat bertolak belakang. Adam adalah siswa yang mempunyai banyak teman dan disukai oleh teman-temannya, bahkan guru-gurunya. Di dalam novel digambarkan bahwa keberadaaan Adam dapat membawa senyum dan kebahagiaan kepada orang lain, dan dari kepribadiannya yang seperti inilah akhirnya ia menjadi caretaker bagi Julian. Sedangkan, Julian adalah siswa yang sangat pemalu, sangat pendiam, dan cenderung tidak disenangi oleh teman-temannya. Bukan tanpa sebab, setelah separuh novel diketahui bahwa Julian adalah korban child abuse yang dilakukan oleh Russell, paman Julian yang mengasuh Julian, dan hal ini membuat Julian berbeda dan dijauhi oleh teman-temannya.

Ke mana orang tua Julian? Ketika Julian berusia 9 tahun, sebuah kecelakaan menimpa kedua orang tuanya dan mengakibatkan keduanya meninggal dunia. Dan Russell, adalah satu-satunya keluarga yang ada yang bersedia mengasuh Julian. Selama Julian tinggal bersama Russell, ia tidak mendapatkan perlakuan yang cukup baik, meski menurut Russell apa yang ia berikan kepada Julian adalah sudah lebih dari cukup. Padahal jika kita melihat Julian, untuk anak seusianya dia selalu memakai baju yang jauh dari kata modis, malahan dia lebih sering memakai baju berlubang dan kekecilan. Belum lagi jika Julian melakukan hal yang dianggap Russell salah dan tidak menghormatinya, Julian akan dihukum dan mengakibatkan ia tak masuk sekolah selama beberapa hari ke depan. Heum, kira-kira apa yang dilakukan Russell kepada Julian?

Novel ini sangat kaya emosi, ada saat-saat di mana saya ikut merasa tertekan, merasa terharu, meski ada beberapa bagian yang sangat manis, tetapi tetap saja tidak mengurangi kesan suram dari kehidupan Julian. Pada satu titik, Julian mesti dipindahkan oleh pamannya dari sekolahnya saat ini, dan hal ini sudah pasti akan membuatnya terpisah dari Adam, satu-satunya orang yang dekat dengannya dan ia sayangi. Perpisahan yang awalnya dikira baik-baik saja dan merupakan hal normal ternyata menyembunyikan sebuah kejadian yang sangat menyedihkan terhadap Julian. Tanpa diketahui oleh siapa pun, Julian disekap dalam sebuah peti yang berukuran sangat pas dengan tubuhnya selama 19 hari, Julian hanya diberi kesempatan untuk makan dan ke kamar mandi, itu pun tak lama, semuanya dilakukan di bawah pengawasan Russell. Sampai pada suatu saat Adam merasa ada yang tidak beres dan memutuskan untuk membobol rumah Russell untuk mencari titik terang mengenai keberadaan Julian. Dan betapa mengagetkan ketika Adam menemukan Julian tersekap di dalam sebuah peti dalam keadaan lemas dan tidak sadarkan diri. Tubuhnya penuh luka, Julian terlihat lebih kurus dan menyedihkan.

Cara Roe menggambarkan keadaan Julian di dalam peti ini sukses membuat saya sedang merasakan sleep paralysis, jika teman-teman pernah mengalami sleep paralysis pasti tahu maksud saya, di mana kita merasa ingin membuka mata dan bergerak, tetapi tubuh ini tidak bisa mengikuti kehendak kita.

Aku basah. Aku lapar. Dia tidak akan kembali. Di sini gelap. Aku ketakutan. Aku tidak akan pernah keluar. Aku menjerit dan mencakar-cakar dinding-dinding cangkang. Ada ledakan besar rasa sakit, tulang-tulang yang berderak, tapi aku terus memukul.


Memang terasa lega ketika Julian berhasil diselamatkan oleh Adam. Akan tetapi bagaimana dengan Russell? Polisi tengah memburunya, namun tidak ada titik terang. Bayang-bayang Russell menghantui kedua anak ini. Bahkan saya pun ikut merasa was-was, takut kalau Russell akan muncul secara tiba-tiba dan memperburuk keadaan Julian. Apakah Russel akan kembali? Apakah Julian bisa hidup dengan tenang dan bahagia layaknya anak-anak lainnya?

Saatnya Berbagi…

Bagi teman pembaca lainnya yang tertarik dengan buku karya Robin Roe ini, jangan khawatir. Karena pada akhir blogtour ini, Penerbit Spring akan memberikan satu buku A List of Cages bagi teman-teman yang beruntung. Ikuti rangkaian blogtour-nya, dan menangkan bukunya.



Caranya cukup mudah jika teman pembaca lainnya berminat untuk mendapatkan buku ini. Yuk, simak!
  • Jangan lupa untuk follow semua akun media sosial dari Penerbit Spring, baik di Instagram, Facebook, dan Twitter. Jika berminat, silakan follow akun Instagram saya.
  • Memiliki alamat pengiriman di Indonesia.
  • Mengikuti rangkaian blogtour dari awal sampai akhir untuk mempermudah teman-teman dalam mengikuti GA.
  • Simpan baik-baik jawaban dari pertanyaan di bawah ini untuk nantinya mengikuti final blogtour di akun facebook Penerbit Spring:
“Kondisi apa yang menyebabkan Julian kesulitan dalam membaca?”


Dan, jangan lupa mengumpulkan jawaban lainnya dari blog-blog yang mengadakan blogtour A List of Cages untuk memenangkan GA yang diadakan di akun facebook Penerbit Spring pada tanggal 2-4 April 2018.


Selamat Membaca dan Semoga Beruntung!






[1] J.P. Chaplin

Komentar

  1. Disleksia, sebuah kondisi ketidakmampuan membaca, atau kerusakan pada fungsi membaca

    BalasHapus
    Balasan
    1. Disimpan ya, Kak, jawabannya. Dan, ikuti GA-nya di FB Penerbit Spring yang akan diadakan pada tanggal 2-4 April 2018.

      Hapus
  2. Mengalami Disleksia yaitu ketidakmampuan membaca atau kerusakan pada fungsi membaca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Disimpan ya, Kak, jawabannya. Dan, ikuti GA-nya di FB Penerbit Spring yang akan diadakan pada tanggal 2-4 April 2018.

      Hapus
  3. Kupenasaran jadinya. Ini jadi macem psychology thriller gitu ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang unsur suspense-nya kalo mau dibilang psychologycal thriller mah. But, buku ini memang highly recommended.

      Hapus

Posting Komentar

Yang Sering Dikunjungi

[Resensi Film] - DILAN 1990 (2018), Panglima Tempur yang Tak Jadi Tempur

[Resensi Film] - Analisis Film A Beautiful Mind

[Psikologi] - Victim Blaming Tendencies pada Korban Pemerkosaan

[Ulasan Buku] - Doctor Zhivago

[Giveaway] - The Girl on Paper, bersama Penerbit Spring