[Resensi Film] - Kucumbu Tubuh Indahku (2019), Sebuah Potret Lengger Lanang

Sumber Gambar: Handy Kara

Sutradara: Garin Nugroho | Produser: Ifa Isfansyah
Penulis Skenario: Garin Nugroho | Pemain: Muhammad Khan, Raditya Evandra
Rianto, Sujiwo Tejo, Teuku Rifnu Wikana, Randy Pangalila
Rumah Produksi: Fourcolors, GO-Studio | Rilis: 18 April 2019
Durasi: 106 Menit | Rating: D17+ | Score: 4/5



KUCUMBU TUBUH INDAHKU--sebuah film yang menampilkan potret penari Lengger Lanang yang saat ini eksistensinya semakin terkikis karena mental masyarakat Indonesia yang kian hari makin konservatif. Film yang disutradarai dan ditulis oleh Garin Nugroho ini berkisah perjalanan hidup seorang anak bernama Juno, yang dalam tiga babak diperankan oleh Raditya Evandra (Juno Kecil), Muhammad Khan (Juno Remaja), dan Rianto (Juno Dewasa). 

Sekilas film ini seperti film semi-biopik, karena film yang berdurasi 106 menit ini akan dibagi menjadi beberapa bagian, yang pada tiap awal bagian akan dimulai dengan monolog yang dibawakan oleh Rianto. Rianto sendiri adalah seorang praktisi seni Lengger Lanang yang saat ini lebih banyak menjalani hidupnya di Tokyo, Jepang--kenapa saya katakan sebagai film semi-biopik? Karena memang Garin membuat film ini berdasarkan pengalaman Rianto dalam menggeluti dunia seni Lengger Lanang ini, saya tidak tahu pasti apakah keseluruhan cerita berdasarkan kisah nyata Rianto yang kemudian mendapatkan sentuhan dramatisasi di sana-sini, atau hanya sebuah film yang hanya ingin menyampaikan kepada dunia luar bahwa iniloh ada kesenian yang namanya Lengger Lanang yang mesti kalian tahu juga.

Sebelum resmi ditayangkan di bioskop-bioskop tanah air, film ini telah ditayangkan di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), dan juga sudah berkeliling ke festival-festival film di beberapa penjuru dunia yang tentu saja bukan suatu hal yang mengejutkan jika film ini mendapatkan banyak penghargaan di ajang tersebut. Kabarnya versi yang ditayangkan di bioskop adalah versi yang sudah dipotong, maksudnya ada beberapa scene yang dihilangkan demi menjaga keamanan dari amuk masa paska menonton film ini, ya gimana ya, sudah disensor dan diberikan versi amannya saja masih dipetisi, apalagi kalau diberikan versi aslinya? Kenapa dipetisi? Ya, nanti kita bahas setelahnya.

Kucumbu Tubuh Indahku ini bukan jenis artfilm pertama yang saya tonton, tetapi, jujur saja ketika beberapa menit awal film saya sempat merasa takut jangan-jangan film ini bakalan ngebosenin nih... Tapi tentu saja tidak, ada beberapa hal menarik yang membuat penonton untuk selalu menaruh perhatian penuh selama film ini diputar. Salah satu di antaranya adalah penggunaan bahasa Jawa Ngapak yang digunakan di hampir seluruh film. Selain itu, banyak sekali scene-scene yang terkesan flat namun sangat sarat dengan emosi, jadi jangan kaget ketika menonton film ini kita bisa ikut merasakan tegang, sendu, sampai rasa ngilu yang bercampur menjadi satu.

Bisa dikatakan, kekuatan pertama dari film ini adalah kepadatan cerita yang ditawarkan kepada penonton. Selain itu tentu saja ada di kepiawaian para aktor yang memerankan tokoh yang dibawakan. Sungguh, jika di dalam film ini misalnya Sujiwo Tejo atau Teuku Wisnu Wikara bisa bermain ciamik nan apik, ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan, atau malah ya pasti kita sudah bisa menerkanya sebelum menonton filmnya pun. Magnet dari film ini menurut saya adalah di karakter Juno yang dibawakan oleh tiga orang berbeda, kesemuanya, dari Juno Kecil, Juno Remaja, ataupun Juno Dewasa, adalah sebuah daya tarik tersendiri dalam film ini. Ketiga tokoh yang memerankan karater Juno adalah orang-orang yang baru kali ini saya tahu, namun, sebuah kejutan yang sungguh luar biasa ketika ketiganya bisa membawakan karakter Juno ini dengan sangat cemerlang. Hal in bukan sesuatu yang saya lebih-lebihkan, karena ketiganya ini bisa membawakan karakter Juno yang  sendu, tertutup, maskulin sekaligus sangat feminin dengan sekali tebas, bisa dibayangkan? 

Lain lagi dengan gambar dari film ini, jika teman-teman adalah penikmat film yang menomorsatukan beauty shot seperti yang bisa diberikan secara lebih-lebih di film Ave Maryam, jangan harap di film ini akan kalian temukan hal yang sama. Tidak, ini bukanlah sebuah kekurangan, ini bukan menjadi poin minus di film ini. Malahan menurut saya, pada kesederhanaan gambar inilah emosi film bisa ter-deliver dengan baik kepada penonton, karena film bagus tidak harus mesti menyuguhkan banyak beauty shot saja, tapi lebih daripada itu, film yang bagus adalah film yang memiliki komposisi yang berimbang antara cerita, tokoh, konflik, dan yang paling terpenting adalah film itu bisa menyampaikan emosinya kepada penonton. 

Emosi, ya film ini sangat kental dengan emosi tokoh-tokohnya, khususnya Juno. Bahkan, ketika selesai menonton film ini, yang ada di otak saya adalah, bagaimana orang bisa bertahan ketika mempunyai pengalaman hidup yang begitu keras dan sarat dengan banyak kehilangan sedari kecil seperti yang dilalui oleh Juno? Perjalanan Juno ketika dia ditinggalkan ayahnya, ketika dia mesti melihat banyaknya darah yang tumpah karena sebuah kebencian dan dendam, ketika dia akhirnya bisa menemukan sosok-sosok yang ia anggap bisa melindungi dan menyanyangi namun pada akhirnya mesti kehilangan orang-orang itu, dan ketika ia mesti menerima diri sejatinya--ini adalah sebuah petualangan hidup yang sungguh luar biasa yang tak hanya sekali dua kali mengalami jatuh dan mesti bangkit lagi, tidak, semuanya tidak sesederhana itu. Dibalik sosoknya yang ayu dan lembut, Juno adalah karakter kuat hasil tempa pengalaman hidup yang saya yakin tidak semua orang bisa melalui dengan baik.

Jika saya mesti memberikan satu kata untuk film ini, tak ada yang lebih tepat daripada kata MAGIS! Ya, film ini selain sarat emosi juga mempunyai daya tarik magis yang luar biasa. Hal ini bisa dirasakan di beberapa scene, khususnya ketika film memasuki kehidupan Juno yang pada akhirnya bertemu dengan seorang Warok. Ada satu scene di mana sang Warok melakukan semadi di sebuah ruangan untuk meminta Juno sebagai Gemblak, hal ini memberikan sentuhan magis yang jujur saja membuat saya merinding, padahal ini bukan film horor dengan suguhan jumpscare di mana-mana, tidak, ini film drama yang kapasitasnya mampu membikin penonton nyengir, merinding, sekaligus mikir dalam waktu bersamaan. Kemudian scene bergeser ketika sang Warok mengenalkan Juno sebagai sang Gemblak yang ia pilih, Juno Remaja mulai berdiri dan menari, disusul dengan kehadiran Barongan dan Bujang Ganong yang menambah suasana magis makin terasa kental di film ini. 

Selain isu budaya yang disampaikan dalam film ini, Garin juga menambahkan isu-isu lain seperti politik, psikologis, dan fenomena-fenomena gender yang tak lepas dari isu budaya yang menjadi fondasi utama film ini. Harapan untuk film-film seperti ini selain sukses menyabet banyak penghargaan di festival-festival film juga semoga saja makin mampu menarik lebih banyak penonton, ketika ulasan ini saya buat tercatat sudah 8.085 orang yang menonton film ini, padahal film ini sudah memasuki hari kedelapan naik tayang di bioskop. Terlihat jelas, jika film-film serupa ini masih sangatlah minim peminat. 


Deretan Lagu Ciamik Sebagai Pelengkap Film

Sumber Gambar: Official Instagram Signature Music Indonesia

Satu lagi komponen penting dalam sebuah film adalah deretan musik yang dijadikan soundtrack. Adalah Mondo Gascaro yang dipercayai oleh Garin untuk meramu musik-musik apik sebagai pelengkap dalam film ini. Dan benar saja, pilihan musik dari Mondo Gascaro bisa menambah rasa romantis magis dalam film ini. Bukan, bukan romantis yang menye-menye, tapi kesan romantis syahdu yang membuat kita mesem ketika musik-musik ini mulai dimainkan dalam bagian film.

Bagian favorit saya adalah musik yang dijadikan latar pada closing scene, ketika Juno mesti berpindah tempat dan mesti berpisah dengan sang Warok. Adalah lagu Apatis yang memasuki ruang dengar penonton ketika ikut serta bersama Juno melakukan perjalanan ke tempat baru dengan menumpang sebuah mobil bak terbuka. Oya, Juno ini bisa dikatakan mempunyai hubungan yang erat dengan hal-hal yang berbau seni, yang tentu saja dengan jelas sudah kita ketahui dia sangat mencintai kesenian Lengger Lanang yang akhirnya menjadi pilihan jalan hidupnya, ia juga mempunyai ketertarikan dengan musisi-musisi luar. Dalam beberapa scene diperlihatkan poster-poster penyanyi yang menghiasi dinding kamar atau rumahnya, sebut saja Freddie Mercury dan David Bowie, dan hal ini juga dikuatkan dengan sebuah radio tua yang selalu ia bawa ke mana pun ia berpindah tempat. Juno Kecil dan Juno Remaja tak terpisahkan dari radio tua yang merupakan peninggalan satu-satunya dari sang bapak, dan mungkin saja melalui radio itu adalah medianya untuk tetap dapat merasa dekat dengan sang bapak.

Berbeda dengan lagu-lagu pengisi soundtrack film Ave Maryam, lagu-lagu pengisi soundtrack film ini bisa dinikmati secara lebih mudah, karena pada akhir tahun 2018 lalu Mondo Gascaro bersama dengan Ivy League Music dan Signature Music Indonesia telah meluncurkan album ini dalam bentuk digital dan fisik (CD). Dalam album tersebut, selain terdapat lagu-lagu yang dibawakan oleh beberapa musisi ternama, juga akan dijumpai track monolog yang dibawakan oleh Rianto yang juga kita bisa jumpai pada tiap awal babak dalam film. 

Sumber Gambar: Screenshoot Aplikasi

Isu Gender Dalam Budaya Daerah Yang Berujung Terbitnya Petisi

Hal yang sudah kita semua ketahui namun kerap sengaja kita lupakan, kita hidup di Negara yang kaya dengan peninggalan budaya. Dan seperti yang telah saya sebutkan di awal bagian ulasan ini,  fondasi utama dari film ini adalah isu budaya. Pengetahuan-pengetahuan baru mengenai kesenian Lengger Lanang dapat kita dapati secara cuma-cuma dalam film ini, selain itu juga terdapat kesenian Reog yang di dalam film ini juga mengenalkan kepada penonton hal-hal baru yang mungkin sebelumnya tidak pernah menjamah kita.

Baik Lengger Lanang atau pun Reog erat kaitannya dengan isu gender, di mana isu tersebut merupakan salah satu isu paling santer yang tengah banyak dibicarakan di sana-sini. Maka dari itu, butuh keberanian bagi sineas-sineas Indonesia atau pun beberapa pihak lainnya jika ingin mengangkat isu ini sebagai diskusi secara terbuka. Mengapa demikian? Karena, meskipun masyarakat Indonesia ini sudah semakin banyak yang mengenyam pendidikan yang bisa dibilang cukup bagus, nampaknya hal tersebut tidak sejalan atau tidak berbanding lurus dengan pemahaman dan nalar atau kemampuan berpikir terbuka yang dipunyai, dan hal inilah yang menurut saya menjadi penghambat adanya diskusi-diskusi sehat di berbagai medium.

Ketika menonton film ini, saya sudah bisa memprediksi bahwa film ini mempunyai kemungkinan untuk dilayakangkan petisi oleh warganet. Dan benar saja, pada tanggal 22 April 2019 telah dibuat sebuah petisi yang berisi penolakan film Kucumbu Tubuh Indahku garapan Garin Nugroho ini. Alasan dibuatnya petisi ini adalah film ini dinilai tidak membawa dampak yang cukup positif bagi generasi muda yang sedang kesulitan dalam pencarian jati diri, dan dengan adanya isu gender yang diangkat dalam film ini, mereka khawatir bahwa generasi muda tersebut akan mencontoh perilaku yang bertentangan dengan norma sosial masyarakat kita.

Sekarang pertanyaannya, jika kita mempunyai seorang anak, dan ketika anak kita mengalami disorientasi gender seperti yang dikhawatirkan banyak orang tersebut, dan jika mesti ada pihak yang harus disalahkan, pihak mana yang kira-kira patut dipersalahkan?

Ketika saya menulis ulasan ini, sudah terdapat 5.702 orang yang sudah menandatangani petisi tersebut. Sedangkan saya juga tidak tahu pasti, apakah ribuan orang tersebut yang memutuskan untuk menandatangani petisi tersebut sudah menonton film ini atau belum, ataukah mereka hanya sekadar menandatangani saja untuk bisa dikatakan sebagai manusia beradab menurut takaran lingkungan sosialnya. Dan, menanggapi adanya petisi tersebut, Garin yang didukung oleh beberapa penggiat film lainnya angkat bicara melalui statement yang telah Garin bagikan melalui akun instagramnya.

Sumber Gambar: Instagram Garin Nugroho


Ya, seperti yang disampaikan oleh Garin, bukankah lebih baik mengadakan diskui secara terbuka dan sehat untuk membahas hal ini? Kenapa harus langsung melayangkan petisi? Sebenarnya, saya cukup yakin petisi ini tidak akan terlalu berpengaruh karena sudah banyak dari kita yang cukup bijak dalam menghadapi hal-hal seperti ini, tetapi masalah utamanya ini bukanlah mengenai seberapa pengaruhnya petisi ini, melainkan apakah sudah sebegitu benarnya kita sehingga melakukan penghakiman massal secara sepihak tanpa mendengarkan terlebih dahulu pendapat dari pihak-pihak yang berbeda dengan kita?

Menurut saya, film ini sangatlah layak tonton. Ini bukanlah film pop yang akan disukai anak-anak muda, bukan juga film horor dengan alur tak jelas, INI ADALAH FILM BERKUALITAS DENGAN ISU SOSIAL YANG SEBAIKNYA SAUDARA KETAHUI ATAU PALING TIDAK SAUDARA MELEK DAN MESTI MENERIMA KEBERADAAN SAUDARA-SAUDARA KITA YANG TENGAH MENGGELUTI KESENIAN LENGGER LANANG! JANGAN MENUNGGU NEGARA LAIN MELAKUKAN KLAIM ATAS KEBUDAYAAN KITA BARU KITA MENGAKUI DAN MENERIMANYA!
Jika sudah ada klaim dari pihak lain, lantas melayangkan petisi lagi kepada pemerintahan, sekali lagi saya ingin bertanya, APAKAH NEGARA INI ADALAH NEGARA YANG BERLANDASKAN OLEH PETISI? 

Sikap kita kian tidak dewasa ketika menyikapi perbedaan, terlalu takut apa yang menjadi pegangan kita tergoyahkan, padahal jika saudara sudah cukup yakin dengan apa yang saudara yakini, diskusi-diskusi sehat bukanlah suatu hal yang tidak mungkin untuk dilakukan.

"Tubuh kita adalah alam, tapi kita melakukan kesalahan, sehingga menyebabkan bencana." 
(Rianto, dalam Kucumbu Tubuh Indahku)


~Selamat Menonton dan Menikmati Sebuah Karya Berkualitas~

Komentar

  1. Gue malah penasaran pas nonton trailernya. Itu ada si bapak yang maen di Rumah dan Musim hujan juga kan ya. Tapi, kayanya gw kudu nunggu tayang di iflix atau siapa tau ditayangin di netflix atau mana ajalah. Yang penting legal dan bisa gw tonton.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Si Bapak? Landu Simatupang maksudnya? Nggak ada deh kalo gak salah...

      Iyadong, nonton dong. Sayang kalo film bagus begini mesti diskip...

      Hapus
    2. Pas ngeliat trailernya gw pikir itu Landung Simatupang. Yang pas dia dipeluk sama bapak tua di atas dipan.

      Hapus
  2. Kadang miris ya, kalo nggak suka ya nggak usah ditonton. Gitu aja kok repot ya, kan kita hidup juga sama2, masing2 punya selera dan nilai yang berbeda. Kalau masing2 saling maksa, apa jadinya dunia?

    BalasHapus

Posting Komentar

Yang Sering Dikunjungi

[Resensi Film] - DILAN 1990 (2018), Panglima Tempur yang Tak Jadi Tempur

[Resensi Film] - Analisis Film A Beautiful Mind

[Resensi Film] - Sweet 20 (2017), Nostalgia Tembang Lawas

[Giveaway] - The Girl on Paper, bersama Penerbit Spring

[Resensi Film] - Istirahatlah Kata-kata (Solo, Solitude)